NEOLIBERAL
dan KAPITALIS IMPREALISME BARU NEGARA BERKEMBANG
A. Konsep
Neoliberal dan
Kapitalis dan Hegemoninya
Banyak
telaah tentang teori-teori kapitalisme kontemporer melihat Neoliberalisme pada
prinsipnya sebagai wujud dari perkembangan baru dari praktik kapitalisme
lanjut. Fase ini berkembang pesat ketika terjadi kegagalan atas penerapan
ekonomi neoklasik yang masih percaya mesin intervensi “regulasi pemerintah”
Sebagian memberikan memberikan titik tekan pada ”regulasi pemerintah” untuk
membedakan dengan “entitas negara” dan sekaligus untuk menghidari kekeliruan
asumsi umum bahwa dengan praktik neoliberalisme maka peran negara akan melenyap
dengan sendirinya. Negara sekiranya
justru pada tahap perkembangan tertentu justru tetap eksis dan mengambil
langkah yang lebih meningkat dalam sistem neoliberalisme. Teori melenyapnya negara dalam sistem neoliberilme
justru banyak hal dipakai oleh kaum imperialisme untuk mendorong keyakinan
ideologis bahwa negara memang sangat. penting bagi perlindungan rakyat sehingga
pasar tidak harus dilepas secara bebas. Bagi
penggagas neoliberalisme pasar seyogyanya
harus dikeluarkan dari jerat regulasi apapun yang menghambat dinamika pasar.
Dengan demikian secara eksplisit mau
mengingatkan bahwa tidak mudah memetakan karakter secara umum
dari kondisi negara dalam era neoliberalisme. Menurut Harvey ada dua alasan
penting pertama karena dalam konteks praktik, banyak Negara menyimpang
dari derskripsi teorinya dan adanya dinamika
neoliberalisme yang sedemikian rupa
sehingga memaksa berbagai bentuk adaptasi yang sangat bervariasi dari negara
satu dengan negara yang lain. Oleh Harvey
menyebutnya sebagai bersifat “transisional” atau “tidak stabil”. Di antara
ketegangan-ketegangan itu kemudian terlihat sebuah kondisi disparitas yang
semakin nampak bahwa neoliberalisme dalam dirinya menghadirkan banyak paradoks
dan kontradiksi. Negara dalam imaji mendasarneoliberal, diharapkan berdiri
hanya sebagai “penonton”. Perkembangan waktu, harapan ini justru terkesan hanya
menjadi kedok dari kepentingan yang lebih besar.Negara justru semakin
memantapkan peranan intervensionisnya sebagai institusi yang mempunyai
legitimasi untuk mengatur dan mencipta regulasi. Kedua, neoliberalisme banyak kasus justru lebih menampakan wajah
otoritarianismenya ketimbang janji kebebasan yang didengungkan. Kekuasaan
korporasi justru banyak hal merampas kebebasan
individu yang dijanjikan dalam retorika kaum neoliberal. Ketiga, integritas ekonomi yang dijanjikan sebagai cara untuk
pengaturan pasar justru sering membuka peluang spekulasi-spekulasi tidak
bertanggungjawab, skandal keuangan dan instabilitas sistem ekonomi yang kronis.
Keempat, iklim kompetisi yang menjadi prasyarat pasar bebas justru makin
menyuburkan konsolidasi kekuatan oligopolistik, monopoli dan kekuasaan
korporasi yang sentralistik. Kelima, kredo untuk kebebasan justru menyebabkan banyak destruksi solidaritas sosial.
B.Neoliberal dan Kapitalisme
Sebagai Imperarium Baru
Abad Modern
Menelisik
lebih jauh untuk membongkar ruang kosong yang disebut Harvey senbagai “disparitas yang ideal
dan yang real” adalah dengan membongkar dan mematahkan keseluruhan konsepsi neoliberal dengan kenyataanfakta-fakta yang berjalan.
Penting kiranya memetanarasikan segala konsep dan pengertian yang terkandung dalam diskursus
neoliberalisme.
Apa yang cukup harus dilihat dari seluruh perkembangan itu adalah bahwa seluruh
konsepsi dan perspektif yang kemudian berkembang dan diterima sebagai keyakinan
umum adalah buah campur tangan dari berbagai kekuatan “aparatus konseptual”.
Daya pikat ide apapun sangat efektifnya. Apa yang dibawa seakan sudah menjadi
realitas yang harus diterima. Hal cukup memaparkan bagaimana sebuah gagasan
seperti mantra “kebebasan” dan “martabat manusia” dijadikan nilai ideal
universal. Dengan mantra kebebasan ini pula yang melahirkan berbagai
gerakan-gerakan politik seperti di beberapa kawasan seperti di Eropa Timur,
Amerika Latin, Uni Soviet atau juga
reformasi politik Cina. Atas nama kebebaan inipula yang menjadi ikon propaganda
Amerika untuk mengalahkan beberapa rival
kepentingan politik. Kekuasaan Irak di bawah Sadam Husein tumbang atas nama “kebebasan”.
Di balik stas nama kebebasan pula pasca tumbangnya rezim Sadam, Paul Bremer,
Kepala Sementara Koalisi di Irak mengesahkan berbagai keputusan perubahan di
sekitar pengaturan politik dan ekonomi. Irak pasca Sadam Husein lebih menjadi
Irak yang sudah sangat liberal. Sistem ekonomi politik didorong mengikuti pola
dan system neoliberal. Intervensi penguasaan asing menjadi sangat terbuka.
Kebijakan yang berubah drastis itu meliputi privatisasi menyeluruh atas
perusahaan-perusahaan publik, hak-hak kepemilikan secara penuh atas
bisnis-bisnis Irak oleh perusahaan-perusahaan asing, repratiasi secara total
atas laba asing, dan pembukaan seluas-luasnya terhadap masuknya modal asing.
Lebih parah lagi, kebiakan itu berlaku untuk segala bidang baik pelayanan
publik, media, manufaktur, jasa, transportasi, keuangan dan konstruksi.
C.Deskripsi Negara
Berkembang dan Ketergantunganya Terhadap Kapitalisme
Masalah Yang terjadi setelah neoliberalisme menjadi
mazhab dominan dalam pola ekonomi politik dunia adalah terbentuknya aktor-aktor
baru yang merupakan badan berpengaruh pada perjalanan neoliberalisme. Beberapa
aktor penting yang bisa disebutkan disini adalah : pertama, adalah World
Trade Organization (WTO) yang didirikan pada tahun 1994 dan merupakan
kelanjutan dari GATT (General Agreement Tariffs and Trade) Organisasi
perdagangan ini saat ini lebih beranggotakan 144 negara termasuk Indonesia. Di
sini diatur berbagai aturan peraturan perdagangan baik barang, jasa maupun HAKI
terkait perdagangan. Tentu saja proses keputusan dalam WTO selalu dimenangkan
oleh kepentingan negara-negara maju sehingga produk dari keputusan WTO akhirnya
bukannya memperbaiki ekonomi dunia berkembag melainkan terjebak mereka dalam
hisapan imperialisme barat.
Prinsip pokok gagasan Neoliberalisme terangkum dalam
gagasannya untuk
mengoptimalkan
terus menerus pertumbuhan ekonomi. Bagi prinsip ini, proses laju
ekonomi
akan semakin meningkat dan berkembang secara pesat jika dan hanya jika lintas
barang jasa dan modal tidak terhambat oleh regulasi apapun. Pasar bebas
mensyaratkan
tiadanya kontrol dan aturan-aturan yang memungkinkan pasar tidak bisa berjalan
secara progresif. Gagasan neoliberalisme sangat menentang keras campur tangan
dan intervensi birokrasi negara yang mengancam percepatan pasar. Di markas WTO,
putusan-putusan dibuat atas nama “pasar bebas” yang membatasi kemampuan
negara untuk mengawal kepentingan-kepentingan rakyatnya, bahkan pada
kasus-kasus ketika negara berkeinginan untuk melakukan
sekalipun Dalam dunia yang kian didominasi oleh sistem kapitalis internasional,
semakin banyak keputusan yang berada di luar kendali langsung sebuah negara.
Badan-badan negara yang sangat penting seperti kementrian keuangan, bank
sentral. dan kantor perdana menteri atau presiden, menjadi terkait satu sama
lain dan terkait pada lembaga internasional seperti IMF. Akibatnya, negara
dipaksa untuk mengadopsi kebijakan yang merefleksikan kepentingan internasional
dalam porsi yang sama besar dengan porsi kepentingan domestik. Padahal jika
mengingat prasyarat pasar sendiri seperti yang dikemukakan oleh Adam Smith yang
dianggap sebagai peletak dasar dari ekonomi pasar liberal, negara masih menjadi
fungsi amat penting dalam mengatur berjalannya pasar.
D.Rekonstruksi Dunia
Baru Negara Berkembang
Keragaman atas kondisi objektif dan
transisi negara dalam cengkeraman
neoliberalisme
juga berpengaruh terhadap munculnya berbagai varian gerakan
sosial.Pilihan-pilihan berbeda ini satu sisi membuka iklim demokratisasi atas
jawabanterhadap hadirnya noliberalisme tetapi sisi yang lein juga menyebabkan
berbagaipenyatuan aktifitas gerakan
sering tersendat. Meskipun tidak cukup detail dalam membaca kemungkinan gerakan
alternatif semacam apa yang perlu dibangun untuk menghadapi neoliberalisme
berkaca dalam dilema keragaman gerakan sosial ini, David Harvey memberikan dua
catatankecenderungan penting yang selama ini bisa dijadikan model pilihan,
Pertama, terlibat dan ikut serta dalam gerakan-gerakan oposisi dan membangun
program perjuangan oposisi yang berjangka luas. Kedua, melakukan risetriset teoritis
dan praktis mengenai kondisi saat ini dan berusaha menemukan kemungkinan
alternatif-alternatif yang bisa bisa dikembangkan. Tentu dua hal pendekatan
gerakan ini tidaklah harus dibaca terpisah berdiri sendiri. Penting kiranya mengambil
keduanya sebagai cara untuk mengembangkan kualitas gerakan. Apa yang menjadi
premis penting dari konsekuensi tersebarnya berbagai reaksi gerakan yang lebih
pulral adalah bukan untuk menuntut dan memaksa kita menyatukan dalam pola yang
seragam tetapi menemukan hubungan-hubungan organisasi dari gerakan-gerakan yang
beagam itu dalam roh perlawanan yang sama.
DAFTAR
PUSTAKA
Harvey.2001.kapitalisme liberal cengkraman Negara
berkembang.rajawali pers.
Husaini,Adian
dkk.2004.Tantangan Sekularisme dan
Liberalisasi di Dunia Islam.Surabaya:Khairul
Bayan
La
Rianda.2012.Kawasan Ekonomi Khusus dan
Sistem Kapitalisme Global:Domain Ketergantungan dan Kemiskinan Anak Bangsa.Kendari:Unhalu
Press
Priono,
Hendry.masa depan yang sempurna . www,http.m detik com diakses tanggal 6 maret
2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar