Senin, 26 Oktober 2015

NEOLIBERAL dan KAPITALIS IMPREALISME BARU NEGARA BERKEMBANG



NEOLIBERAL dan KAPITALIS IMPREALISME BARU NEGARA BERKEMBANG

A.   Konsep  Neoliberal  dan  Kapitalis  dan  Hegemoninya
Banyak telaah tentang teori-teori kapitalisme kontemporer melihat Neoliberalisme pada prinsipnya sebagai wujud dari perkembangan baru dari praktik kapitalisme lanjut. Fase ini berkembang pesat ketika terjadi kegagalan atas penerapan ekonomi neoklasik yang masih percaya mesin intervensi “regulasi pemerintah” Sebagian memberikan memberikan titik tekan pada ”regulasi pemerintah” untuk membedakan dengan “entitas negara” dan sekaligus untuk menghidari kekeliruan asumsi umum bahwa dengan praktik neoliberalisme maka peran negara akan melenyap dengan  sendirinya. Negara sekiranya justru pada tahap perkembangan tertentu justru tetap eksis dan mengambil langkah yang lebih meningkat dalam sistem neoliberalisme. Teori  melenyapnya negara dalam sistem neoliberilme justru banyak hal dipakai oleh kaum imperialisme untuk mendorong keyakinan ideologis bahwa negara memang sangat. penting bagi perlindungan rakyat sehingga pasar tidak harus dilepas secara bebas. Bagi  penggagas neoliberalisme pasar  seyogyanya  harus  dikeluarkan dari jerat regulasi apapun  yang menghambat dinamika pasar.
          Dengan demikian secara eksplisit mau mengingatkan bahwa tidak mudah memetakan  karakter  secara  umum dari kondisi negara dalam era neoliberalisme. Menurut Harvey ada  dua  alasan  penting  pertama  karena  dalam  konteks praktik, banyak  Negara  menyimpang  dari  derskripsi teorinya dan adanya dinamika neoliberalisme yang  sedemikian rupa sehingga memaksa berbagai bentuk adaptasi yang sangat bervariasi dari negara satu dengan negara yang lain. Oleh  Harvey menyebutnya sebagai bersifat “transisional” atau “tidak stabil”. Di antara ketegangan-ketegangan itu kemudian terlihat sebuah kondisi disparitas yang semakin nampak bahwa neoliberalisme dalam dirinya menghadirkan banyak paradoks dan kontradiksi. Negara dalam imaji mendasarneoliberal, diharapkan berdiri hanya sebagai “penonton”. Perkembangan waktu, harapan ini justru terkesan hanya menjadi kedok dari kepentingan yang lebih besar.Negara justru semakin memantapkan peranan intervensionisnya sebagai institusi yang mempunyai legitimasi untuk mengatur dan mencipta regulasi. Kedua, neoliberalisme  banyak kasus justru lebih menampakan wajah otoritarianismenya ketimbang janji kebebasan yang didengungkan. Kekuasaan korporasi justru banyak hal merampas  kebebasan individu yang dijanjikan dalam retorika kaum neoliberal. Ketiga, integritas  ekonomi yang dijanjikan sebagai cara untuk pengaturan pasar justru sering membuka peluang spekulasi-spekulasi tidak bertanggungjawab, skandal keuangan dan instabilitas sistem ekonomi yang kronis. Keempat, iklim kompetisi yang menjadi prasyarat pasar bebas justru makin menyuburkan konsolidasi kekuatan oligopolistik, monopoli dan kekuasaan korporasi yang sentralistik. Kelima, kredo untuk  kebebasan  justru menyebabkan  banyak destruksi solidaritas sosial.

B.Neoliberal dan  Kapitalisme  Sebagai  Imperarium  Baru  Abad  Modern
Menelisik  lebih  jauh untuk  membongkar  ruang  kosong  yang  disebut Harvey  senbagai “disparitas  yang  ideal  dan  yang real” adalah  dengan membongkar dan  mematahkan keseluruhan konsepsi  neoliberal  dengan kenyataanfakta-fakta yang berjalan. Penting kiranya memetanarasikan segala konsep dan  pengertian  yang terkandung dalam diskursus neoliberalisme.
Apa  yang cukup harus dilihat dari  seluruh perkembangan itu adalah bahwa seluruh konsepsi dan perspektif yang kemudian berkembang dan diterima sebagai keyakinan umum adalah buah campur tangan dari berbagai kekuatan “aparatus konseptual”. Daya pikat ide apapun sangat efektifnya. Apa yang dibawa seakan sudah menjadi realitas yang harus diterima. Hal cukup memaparkan bagaimana sebuah gagasan seperti mantra “kebebasan” dan “martabat manusia” dijadikan nilai ideal universal. Dengan mantra kebebasan ini pula yang melahirkan berbagai gerakan-gerakan politik seperti di beberapa kawasan seperti di Eropa Timur, Amerika Latin, Uni Soviet  atau juga reformasi politik Cina. Atas nama kebebaan inipula yang menjadi ikon propaganda Amerika untuk mengalahkan  beberapa rival kepentingan politik. Kekuasaan Irak di bawah Sadam Husein tumbang atas nama “kebebasan”. Di balik stas nama kebebasan pula pasca tumbangnya rezim Sadam, Paul Bremer, Kepala Sementara Koalisi di Irak mengesahkan berbagai keputusan perubahan di sekitar pengaturan politik dan ekonomi. Irak pasca Sadam Husein lebih menjadi Irak yang sudah sangat liberal. Sistem ekonomi politik didorong mengikuti pola dan system neoliberal. Intervensi penguasaan asing menjadi sangat terbuka. Kebijakan yang berubah drastis itu meliputi privatisasi menyeluruh atas perusahaan-perusahaan publik, hak-hak kepemilikan secara penuh atas bisnis-bisnis Irak oleh perusahaan-perusahaan asing, repratiasi secara total atas laba asing, dan pembukaan seluas-luasnya terhadap masuknya modal asing. Lebih parah lagi, kebiakan itu berlaku untuk segala bidang baik pelayanan publik, media, manufaktur, jasa, transportasi, keuangan dan konstruksi.
C.Deskripsi  Negara  Berkembang  dan  Ketergantunganya  Terhadap Kapitalisme
Masalah Yang terjadi setelah neoliberalisme menjadi mazhab dominan dalam pola ekonomi politik dunia adalah terbentuknya aktor-aktor baru yang merupakan badan berpengaruh pada perjalanan neoliberalisme. Beberapa aktor penting yang bisa disebutkan disini adalah : pertama, adalah World Trade Organization (WTO) yang didirikan pada tahun 1994 dan merupakan kelanjutan dari GATT (General Agreement Tariffs and Trade) Organisasi perdagangan ini saat ini lebih beranggotakan 144 negara termasuk Indonesia. Di sini diatur berbagai aturan peraturan perdagangan baik barang, jasa maupun HAKI terkait perdagangan. Tentu saja proses keputusan dalam WTO selalu dimenangkan oleh kepentingan negara-negara maju sehingga produk dari keputusan WTO akhirnya bukannya memperbaiki ekonomi dunia berkembag melainkan terjebak mereka dalam hisapan imperialisme barat.
Prinsip pokok gagasan Neoliberalisme terangkum dalam gagasannya untuk
mengoptimalkan terus menerus pertumbuhan ekonomi. Bagi prinsip ini, proses laju
ekonomi akan semakin meningkat dan berkembang secara pesat jika dan hanya jika lintas barang jasa dan modal tidak terhambat oleh regulasi apapun. Pasar bebas
mensyaratkan tiadanya kontrol dan aturan-aturan yang memungkinkan pasar tidak bisa berjalan secara progresif. Gagasan neoliberalisme sangat menentang keras campur tangan dan intervensi birokrasi negara yang mengancam percepatan pasar. Di markas WTO, putusan-putusan dibuat atas nama “pasar bebas” yang membatasi kemampuan negara untuk mengawal kepentingan-kepentingan rakyatnya, bahkan pada kasus-kasus ketika negara  berkeinginan  untuk  melakukan sekalipun Dalam dunia yang kian didominasi oleh sistem kapitalis internasional, semakin banyak keputusan yang berada di luar kendali langsung sebuah negara. Badan-badan negara yang sangat penting seperti kementrian keuangan, bank sentral. dan kantor perdana menteri atau presiden, menjadi terkait satu sama lain dan terkait pada lembaga internasional seperti IMF. Akibatnya, negara dipaksa untuk mengadopsi kebijakan yang merefleksikan kepentingan internasional dalam porsi yang sama besar dengan porsi kepentingan domestik. Padahal jika mengingat prasyarat pasar sendiri seperti yang dikemukakan oleh Adam Smith yang dianggap sebagai peletak dasar dari ekonomi pasar liberal, negara masih menjadi fungsi amat penting dalam mengatur berjalannya pasar.
D.Rekonstruksi  Dunia  Baru  Negara  Berkembang
          Keragaman atas kondisi objektif dan transisi negara dalam cengkeraman
neoliberalisme juga berpengaruh terhadap munculnya berbagai varian gerakan sosial.Pilihan-pilihan berbeda ini satu sisi membuka iklim demokratisasi atas jawabanterhadap hadirnya noliberalisme tetapi sisi yang lein juga menyebabkan berbagaipenyatuan  aktifitas gerakan sering tersendat. Meskipun tidak cukup detail dalam membaca kemungkinan gerakan alternatif semacam apa yang perlu dibangun untuk menghadapi neoliberalisme berkaca dalam dilema keragaman gerakan sosial ini, David Harvey memberikan dua catatankecenderungan penting yang selama ini bisa dijadikan model pilihan, Pertama, terlibat dan ikut serta dalam gerakan-gerakan oposisi dan membangun program perjuangan oposisi yang berjangka luas. Kedua, melakukan risetriset teoritis dan praktis mengenai kondisi saat ini dan berusaha menemukan kemungkinan alternatif-alternatif yang bisa bisa dikembangkan. Tentu dua hal pendekatan gerakan ini tidaklah harus dibaca terpisah berdiri sendiri. Penting kiranya mengambil keduanya sebagai cara untuk mengembangkan kualitas gerakan. Apa yang menjadi premis penting dari konsekuensi tersebarnya berbagai reaksi gerakan yang lebih pulral adalah bukan untuk menuntut dan memaksa kita menyatukan dalam pola yang seragam tetapi menemukan hubungan-hubungan organisasi dari gerakan-gerakan yang beagam itu dalam roh perlawanan yang sama.




DAFTAR PUSTAKA
Harvey.2001.kapitalisme liberal cengkraman Negara berkembang.rajawali pers.
Husaini,Adian dkk.2004.Tantangan Sekularisme dan Liberalisasi di Dunia     Islam.Surabaya:Khairul Bayan
La Rianda.2012.Kawasan Ekonomi Khusus dan Sistem Kapitalisme Global:Domain Ketergantungan dan Kemiskinan Anak Bangsa.Kendari:Unhalu Press
Priono, Hendry.masa depan yang sempurna . www,http.m detik com diakses tanggal 6 maret 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar