Senin, 26 Oktober 2015

DILEMATIS LEGITIMASI DAN LOKALISASI TERHADAP EKSISTENSI PROSTITUSI



DILEMATIS LEGITIMASI DAN LOKALISASI TERHADAP EKSISTENSI PROSTITUSI
OLEH[1]
Hasbullah[2]
A.    Pendahuluan
Makin meningkatnya kasus dan penyakit HIV dan AIDS menjadi perhatian oleh banyak pihak terkait masa depan generasi muda di negeri ini. Prostitusi dari zaman pra kemerdekaan sampai zaman reformasi telah menguasai sendi-sendi kehidupan, tak pernah bisa dihilangkan, hanya mampu di ubah dari sebuah bentuk ke bentuk yang lain, legitimasi bahkan memeperkuat keberadaannya di tengah-tengah masyarakat. Bukannya hilang tapi malah dilegalkan.
Berbicara prostitusi maka tidak terlepas dari seorang perempuan yang menjajakan keperempuanannya kepada para pria,atau sebaliknya.Nafsiah 2005 Seks adalah factor utama terjadinya prostitusi tersebut, yang diikuti oleh kepentingan ekonomi.keduanya adalah pilar pembentuk terjadinya proses tersebut.masih ada lagi beberapa faktor lainnya yang kemudian terbagi menjadi faktor internal dan eksternal.Sesorang yang menjajakan atau menjual seksnya kepada konsumen disebut sebagai pekerja seks komersial.secara kontekstual, pekerja seks komersial lebih identik dinisbahkan kepada perempuan karena secara kuantitas perempuan lebih banyak menempati posisi pekerjaan tersebut. Ada juga laki-laki yang menjadi pekerja seks komersial dan biasanya sering menjual dirinya kepada homoseksual.Regulasi atau aturan yang ada memperkuat keberadaan prostitusi di Indonesia, bahkan regulasi membuat prostitusi semakin berkembang dan secara kuantitas perkembangannya telah menjadikan pekerjaan ini menjadi lahan pekerjaan yang sangat menjanjikan menghasilkan materi karena seks merupakan kebutuhan individual manusia. Bahkan menurut sigmen freud manusia hidup untuk melampiaskan kebutuhan libido-libido seksualnya . Pelampiasan libido-libido seksual akan semakin gampang tersalurkan bagi individu yang belum memiliki pasangan atau membutuhkan suasana baru (variatif) dengan adanya keberadaan pekerja seks komersial.
Prostitusi memberikan berbagai dampak dalam kehidupan social, baik secara psikologi yang berakibat pada karakter individu atau secara kolektivitas masyarakat.dengan beberapa dampak negative yang ditimbulkan maka semua agama melarang keberadaan prostitusi di muka bumi,hal itu dijelaskan dalam aturan yang dibukukan yaitu kitab suci. Namun secara kenegaraan terkhusus di Indonesia ternyata kebijakan prostitusi belum jelas karena secara moral ternyata prostitusi dilarang namun secara tekstual ternyata ia dianggap sah jika prostitusi tersebut dilakukan di wilayah yang sudah di atur oleh Negara yang disebut sebagai daerah lokalisasi.
B.     Refleksi Dunia Malam Dan  Eksistensi Pekerja Seks Komersial
Profesi sebagai pekerja seks tidak dipandang sebagai profesi yang terhormat oleh masyarakat. Memang di kalangan masyarakat luas sendiri terdapat semacam dualisme dalam menyikapi masalah prostitusi. Di satu pihak, demand atau permintaan terhadap pekerja seks juga tetap tinggi dan banyak yang bersedia membayar pekerja seks lebih mahal. Namun, di pihak lain, walaupun saat ini sebagian kecil masyarakat sudah mulai melihat para pekerja seks sebagai korban dan berusaha untuk menawarkan program-program pengentasan untuk menolong mereka, sebagian besar lain dari masyarakat masih terus mengutuk dan mengucilkan para pekerja seks, menganggap mereka sampah masyarakat. Bahkan ketika mereka ingin beralih profesi ke bidang lain yang dipandang bermartabat oleh lingkungannya, masyarakat tidak begitu saja menerima mereka. Hal ini mengakibatkan para pekerja seks mengalami kesulitan untuk alih profesi ke bidang lain.
Faktor ekonomi menjadi salah satu penyebab timbulnya praktek prostitusi, kondisi bangsa yang berada pada Negara berkembang membuat lapangan pekerjaan semakin sulit dengan biaya hidup yang semakin tinggi dan menjadi kebutuhan yang mendesak sehingga banyak dari perempuan yang mencoba menghidupi diri dan keluarganya dengan cara instant atau gampang. Persoalan ekonomi menjadi factor yang dominan dalam pembentukan masyarakat, menurut marx, infrastruktur akan mempengaruhi suprastruktur, infrastruktur yang dimaksud adalah ekonomi dan berbagai alat pemenuhan kebutuhan akan mempengaruhi pola hidup masyarakat.praktek prostitusi terjadi dan marak berkembang akhir-akhir ini tidak bisa terlepas dari tendensi ekonomi sebagai motif hidup masyarakat materialism, dan landasan epistemologi itulah yang banyak di anut oleh masyarakat hari ini.selain itu faktor Keluarga Broken home atau keluarga yang mengalami kerusakan/keretakan juga menjadi salah satu penyebab terjadinya praktek prostitusi tersebut. Keluaga adalah tempat pendidikan yang utama, tempat pembentuk karakter individu yang lebih dominan dibanding factor lingkungan.keluarga menjadi pilar utama dalam pembentukan karakter tersebut. Dalam keluarga, hubungan yang terjadi dilandasi oleh kasih sayang, kasih sayang adalah hal mendasar dan substantive dalam sruktural tersebut.keluarga tidak terbentuk secara determinis atau keterpaksaan tapi terbentuk secara alamiah. Tanpa sebuah kasih sayang di dalamnya maka keluarga akan mengalami kerapuhan dan akhirnya menimbulkan keretakan.
Secara fitrawi, manusia membutuhkan kasih sayang , jiwanya senantiasa mendorong individu untuk mencari kasih sayang tersebut sebagai kebutuhan mendasar yang harus dipenuhi. Jika dalam keluarga tersebut tidak ada kasih sayang akibat keretakan keluarga maka anggota keluarga tersebut akan mulai mencari kasih sayang di tempat lainnya, kasih sayang itu terkadang diaktualkan dalam belaian-belaia fisik atau hanya secara biololgis belaka. Semua itu hanya bisa diaktualkan di tempat lokalisasi bahkan yang menyenanginya akan menjadikan prostitusi sebagai profesi. kondisi ini banyaak terjadi pada kalangan remaja sehingga di daerah lokalisasi pun kita banyak mendapati perempuan perempuan yang masih remaja dari golongan ekonomi menengah ke atas.lebih jauh  lagi faktor Budaya.
Budaya adalah perilaku manusia yang sering dilakukan dan telah diwariskan secara terus menerus, perilaku manusia dipengaruhi oleh cara pandang dia dalam memahami segala sesuatu( landasan epistemic), cara pandang masyarakat yang menghalalkan kebebasan individu sebagai sebuah kemerdekaan akhirnya menggiring individu pada kebebasan hubungan. Kebebasan hubungan tersebut akhirnya secara perlahan mengarahkan individu kepada wilayah prostitusi.karena prostitusi adalah pengejawantahan dari kebebasan individu.
selain itu faktor Psikologis menurut Sigmen freud 2010 seorang tokoh psikologi menyebutkan bahwa ada tiga motif yang mempengaruhi perilaku manusia. Dorongan kejiwaan tersebut timbul dari alam bawah sadar manusia yang menggerakkan manusia, dorongan kejiwaan atau motif tersebut adalah anal, oral dan genital. anal adalah kebutuhan yang berhubungan dengan pemuasan libido-libido seksual, kebutuhan untuk mempertontonkan jenis kelamin. Oral adalah kebutuhann yang berhubungan dengan pemuasan mulut, sedangkan genital adalah kebutuhan akan pemuasan pada wilayah kepemilikan dimana setiap individu akan terdorong untuk memiliki segala apa yang diharapkan.ketiga motif tersebut hadir semenjak manusia dari kecil, sebagai contoh anak kecil akan senantiasa bahagia ketika mempertontonkan jenis kelaminnya atau telanjang di depan umum(anal), ia akan memasukkan barang apa saja ke dalam mulutnya(oral), dan ingin memiliki barang apa saja yang dapat lihat bahkan akan menangis jika tidak memperolehnya (genital). seiring dengan perkembangan manusia maka ketiga dorongan ini akan tersimpan dialam bawah sadar dan bagi yang tidak terpuaskan di masa kecilnya maka akan mengaktualkan ketika dewasa. Individu yang tidak puas pada wilayah anal sewaktu kecil maka ia akan mencari dan memuaskan dirinya keika ia sudah dewasa. Kebutuhan yang dipengaruhi oleh kondisi psikologis tersebut akan mudah tersalurkan denga cara prostitusi.

C.     Polemik  Keberadaan dan Eksistensi Pekerja Seks Komersial
Profesi sebagai pekerja seks tidak dipandang sebagai profesi yang terhormat oleh masyarakat. Memang di kalangan masyarakat luas sendiri terdapat semacam dualisme dalam menyikapi masalah prostitusi. Di satu pihak, demand atau permintaan terhadap pekerja seks juga tetap tinggi dan banyak yang bersedia membayar pekerja seks lebih mahal. Namun, di pihak lain, walaupun saat ini sebagian kecil masyarakat sudah mulai melihat para pekerja seks sebagai korban dan berusaha untuk menawarkan program-program pengentasan untuk menolong mereka, sebagian besar lain dari masyarakat masih terus mengutuk dan mengucilkan para pekerja seks, menganggap mereka sampah masyarakat. Bahkan ketika mereka ingin beralih profesi ke bidang lain yang dipandang bermartabat oleh lingkungannya, masyarakat tidak begitu saja menerima mereka. Hal ini mengakibatkan para pekerja seks mengalami kesulitan untuk alih profesi ke bidang lain.
Kondisi ini tentunya mengakibatkan terjadinya masalah-masalah diantaranya.
1.Pemetaan sosial
pemetaan social dan pendiskreditan kaum pekerja seks sebagai kaum minoritas dalam masyarakat. Dalam kondisi kehidupan masyarakat sosok pekerja seks komersial dianggap sebagai manusia yang amat hina, hal ini terjadi karena landasan epistemology sebagian masyarakat di Indonesia berlandaskan agama sebagai landasan epistemology mereka dalam menyikapi segala hal. Dalam agama, prostitusi sangat dilarang dan diharamkan oleh agama sehingga mereka yang terlibat dalam dunia prostitusi adalah manusia yang bergelimpangan dosa dan sangat hina. Hal inilah yang membuat para pekerja seks komersial susah diterima di masyarakat dan kesatuan masyarakat akhirnya terbagi dalam wilayah sectarian. Prostitusi mengakibatkan terjadinya pemetaan sosial.
2. Kekerasan dalam masyarakat
Dalam teori social, pemetaan dalam masyarakat sangat rentan mengakibatkan konflik karena masyarakat terbagi dalam kelompok-kelompok.kelompok kelompok ini tentunya dalam perjalannya akan menimbulkan pergesekan karena tiap institusi senantiasa bergerak menuju titik idealnya dalam pahamannya masing-masing. Titik ideal yang menjadi tuntutan kelompok masyarakat prostitusian merupakan antitesa dari titik ideal masyarakat normative(masyarakat anti prostitusi). dalam pahaman kaum anti prostitusi menganngap bahwa masyarakat akan idealketika berbagai penyimpangan norma hilang dari wilayahnya. Umumnya yang berada dalam institusi ini adalah kaum kaum agamawan. Sementara mereka yang berada pada wilayah prostitusi yakni pekerja seks komersial, pengusaha dunia malam, konsumen, akan tetap mempertahankannya. Ketika masing masing institusi tetap bertahan dalam egonya maka konflik yang mengarah pada tindak kekerasan akan tercipta, bergesernya konflik ideologi menjadi konflik fisik.Tindak kekerasan dalam masyarakat ini sudah serig terjadi, pada umumya adalah tindakan penyerangan oleh kaum agamawan terhadap daerah lokalisasi. Gerakan penyerangan ini sering dilakukan oleh Front Pembela Islam(FPI)
3. Krisis moral
Prostitusi memberikan efek psikologis kepada individu para pelaku pelaku yang ada di dalamnya. Sadar atau tidak perilaku prostitusi berpengaruh terhadap kondisi kejiwaan individu penganutnya. Dari risiko pekerjaan, hubungan dengan masyarakat dan minimnya perlindungan yang diberikan, kita tahu bahwa prostitusi bukanlah lapangan pekerjaan yang mudah dan menyenangkan. Mengenai penghasilan, benarkah prostitusi menjanjikan kekayaan? Ternyata tidak serta merta demikian. Dari jumlah yang dibayar oleh pelanggan, tidak semuanya bisa dimiliki oleh pekerja seks, khususnya pekerja yang tergantung pada pihak perantara. Ia harus membaginya dengan mucikari, perantara yang mengatur pertemuan antara pekerja seks dengan pelanggannya, atau germo, si pemilik rumah pelacuran. Bahkan pekerja seks independen yang tidak tergantung pada jasa perantara juga tidak bisa menikmati hasil keringatnya 100 persen. Kondisi lingkungan yang keras ini akan mengakibakan kondisi kejiwaan yang keras pula. Dengan kondisi kejiwaan yang keras akhirnya setiap individu dalam menjalani kehidupan kesehariannya akan dipengaruhi oleh kekerasan jiwa tersebut. Dengan dorongan jiwa ini, perilaku individu akhirnya keluar dari garis normative masyarakat sehingga terjadi krisis moral, tentunya ini sangat menghawatirkan jika krisis moral ini akhirnya merebak ke dalam segala lini kehidupan karena krisis moral bisa bersifat seperti virus yang gampang ditularkan karena setiap hari para pekerja seksual berinteraksi dengan jumlah masyarakat yang terdiri dari segala lapisan stara social tak mengecualikan para pejabat tinggi Negara.

4. Penyakit mematikan
AIDS adalah salah satu penyakit yang ditularkan virus HIV, salah satu penyakit yang menyerang kekebalan tubuh manusia.virus ini bisa timbul akibat hubungan seksual yang tidak sehat karena terjadi pergantian pasangan sehingga daerah kemaluan tidak sehat. Penyakit ini belum bisa disembuhkn, sehingga kematian bagi penderiata AIDS adalah sahabat yang bisa datang lebih cepat.Selain AIDS ada pula berbagai penyakit kelamin yang bisa ditimbulkan antara lain syphilis, membuat mandul,. menyebabkan keguguran, menimbulkan kanker, leher rahim merusak penglihatan, otak dan hati.
 5. Perceraian dan ketidak harmonisan rumah tangga
Prostitusi yang merupakan kegiatan menyimpang norma masyarakat adalah sesuatu hal yang amat memalukan jika masyarakat terjun di dunia itu karena akan didiskreditkan. Sehingga bagi para aki-laki yang ingin menikmati seks komersial tersebut maka akan melakukannya secara rahasia. Bagi para pria yang telah berumah tangga cenderung menjadi konsumen PSK karena ketidak puasan pelampiasan libido-libido seksualnya pada istrinya sehingga membutuhkan variasi baru seksual. Jika perilakun para pria tersebut diketahui oleh istrinya maka akan terjadi disharmonisasi dalam rumah tangga dan berpeluang mengakibatkan perceraian dalam rumah tangga.

D.Lokalisasi dan Kondomisasi Pekerja Seks Komersial Bukan Solusi
            Upaya yang dilakukan pemerintah untuk melokalisasi bahkan gerakan kondomisasi pada dasarnya bukanlah solusi karena upaya tersebut pada dasarnya secara tidak langsung adalah bentuk legitimasi agar pekerja seks komersial dan prostitusi tetap berkembang.solusi tersebut hanyalah solusi yang bersifat parsial bukan yang berifat struktural sistemik maka dari itu penulis memberikan solusi yang bersifat sistemik .menjadikan pendidikan seks sebagai salah satu mata pelajaran dalam kurikulum yang diajarkan di tempat pendidikan formal sejak dini yaitu mencakup jenjang sekolah dasar sampai perguruan tinggi.terjadinya prostitusi itu disebabkan beberapa factor yang telah di jelaskan di atas dan dari beberapa factor penyebab timbulnya prostitusi itu di akibatkan karna kurangnya pemahaman masyarakat terhadap dampak seks bebas. memberikan pemahaman pada masyarakat harus terstruktur dan tersistimatis untuk mengarahkan masyarakat pada titik ideal yang di kehendaki.terstruktur dan tersistimatisnya hanya bisa dilakukan jika dimasukkan dalam kurikulum pendidikan yang diterapkan di sekolah formal mulai dari jenjang SD sampai perguruan tinggi sehingga pedidikan itu akan menentukan cara pandang masyarakat yang akan menghindari praktek prostitusi.
·           Memberikan pendidikan seks kepada masyarakat dengan memesukkanya pada kurikulum akan memebutuhkan proses yang lama sehingga tidak mampu menghilangkan praktek prostitusi yang ada.pendidikan seks sejak dini akan mengarahkan masyarakat untuk menghindari memasuki wilayah prostitusi.ketika prostitusi semakin berkembang sementara pedidikan seks itu belum di pahami oleh masyarakat karna membutuhkan proses yang lama dalam arti lain tujuan pendidkan itu belum sampai maka akan mengakibatkan lingkungan prostitusi yang lebih dominan karena perkembangannya mempengaruhi pemahaman masyarakat yang masih labil akibat pemahan yang belum tuntas.sehingga kebijakan ini aka memungkinkan terjadinya dua hal yaitu menjadikan prstitusi di hindari.semua masih dalam ta
kebijakan,kebijakan yang tepat sasaran dan mampu menghilangkan prostitusi secara substansi adalak kebijakn yaitu  menutup tempat hiburan malam atau tempat prostitusi secara ekstrem karena prostitusi hanya bisa dihilangkan jika pemerintah berani mengambil keputusan dan resiko dari penutupan tempat prostitusi. Secara ekonomi, penutupan tempat prostitusi hanya mengurangi sedikit pendapatan pemerintah dari pajak retribusi. Roda perekonomian akan tetap stabil karena tempat hiburan malam bukanlah penyumbang devisa terbesar. Generasi bangsa akan bisa diselamatkan dari krisis moral hanya dengan menolak sebagian kecil pajak retribusi dari THM. Namun tentunya nasib para pekerja seksual harus diperhatikan dengan menyiapkan lapangan pekerjaan yang bisa menghidupi dirinya.
Penutup
Penyakit HIV/AIDS hingga saat ini masih merupakan penyakit yang paling ditakuti oleh masyarakat baik di dunia maupun Indonesia. Bagai penderita kusta di abad para nabi, Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) hidup dalam selubung stigma.Segundang ide disuarakan dan komitmen meruap di seminar dan berbagai pertemuan.     Tetapi yang menjadi pertanyaan mengapa masih banyak saja masyarakat yang tertular oleh penyakit tersebut yang berujung kepada kematian.
Sementara itu, penularan penyakit HIV/AIDS di Indonesia terus meluas sejak kasus pertama positif HIV didapati pada tahun 1987, dan hingga Juni 2008 angka kematian akibat penyakit penurunan kekebalan tubuh itu sudah mencapai 2.479 orang.Data yang Departemen Kesehatan (Depkes) per Juni 2008 menunjukkan tren kenaikan kasus positif HIV/AIDS di angka 18.963 orang dengan prevalensi kasus AIDS per 100.000 orang penduduk di Indonesia.Artinya bagai gunung es, kasus yang belum tercatat bisa lebih tinggi dari angka yang ditunjukkan saat ini.dengan angka yang sangat besar tersebut maka sudah seharusnya prostitusi di hapus.
DAFTAR PUSTAKA
Freud,Sigmen 2005,sosiologi budaya manusia.Bandung Rineka Bandung
Nafsiah,Ida 2005 prostitusi dan Dunia Malam kota Metropolitan.Bandung.Aneka ilmu
Hawari,Muhamad,Ekspoloitasi Kaum Wanita ,detik,com diakses 23 april


[1] Makalah ini di sajikan dalam pembelajaran seminar PKn
[2] Mahasiswa prodi PKn FKIP UHO

Tidak ada komentar:

Posting Komentar