DILEMATIS
LEGITIMASI DAN LOKALISASI TERHADAP EKSISTENSI PROSTITUSI
OLEH[1]
Hasbullah[2]
A.
Pendahuluan
Makin
meningkatnya kasus dan penyakit HIV dan AIDS menjadi perhatian oleh banyak
pihak terkait masa depan generasi muda di negeri ini. Prostitusi
dari zaman pra kemerdekaan sampai zaman reformasi telah menguasai sendi-sendi
kehidupan, tak pernah bisa dihilangkan, hanya mampu di ubah dari sebuah bentuk
ke bentuk yang lain, legitimasi bahkan memeperkuat keberadaannya di
tengah-tengah masyarakat. Bukannya hilang tapi malah dilegalkan.
Berbicara
prostitusi maka tidak terlepas dari seorang perempuan yang menjajakan
keperempuanannya kepada para pria,atau sebaliknya.Nafsiah 2005 Seks adalah
factor utama terjadinya prostitusi tersebut, yang diikuti oleh kepentingan ekonomi.keduanya
adalah pilar pembentuk terjadinya proses tersebut.masih ada lagi beberapa
faktor lainnya yang kemudian terbagi menjadi faktor internal dan
eksternal.Sesorang yang menjajakan atau menjual seksnya kepada konsumen disebut
sebagai pekerja seks komersial.secara kontekstual, pekerja seks komersial lebih
identik dinisbahkan kepada perempuan karena secara kuantitas perempuan lebih
banyak menempati posisi pekerjaan tersebut. Ada juga laki-laki yang menjadi
pekerja seks komersial dan biasanya sering menjual dirinya kepada
homoseksual.Regulasi atau aturan yang ada memperkuat keberadaan prostitusi di
Indonesia, bahkan regulasi membuat prostitusi semakin berkembang dan secara
kuantitas perkembangannya telah menjadikan pekerjaan ini menjadi lahan
pekerjaan yang sangat menjanjikan menghasilkan materi karena seks merupakan
kebutuhan individual manusia. Bahkan menurut sigmen freud manusia hidup untuk
melampiaskan kebutuhan libido-libido seksualnya . Pelampiasan libido-libido
seksual akan semakin gampang tersalurkan bagi individu yang belum memiliki
pasangan atau membutuhkan suasana baru (variatif) dengan adanya keberadaan
pekerja seks komersial.
Prostitusi memberikan berbagai dampak dalam kehidupan social, baik secara psikologi yang berakibat pada karakter individu atau secara kolektivitas masyarakat.dengan beberapa dampak negative yang ditimbulkan maka semua agama melarang keberadaan prostitusi di muka bumi,hal itu dijelaskan dalam aturan yang dibukukan yaitu kitab suci. Namun secara kenegaraan terkhusus di Indonesia ternyata kebijakan prostitusi belum jelas karena secara moral ternyata prostitusi dilarang namun secara tekstual ternyata ia dianggap sah jika prostitusi tersebut dilakukan di wilayah yang sudah di atur oleh Negara yang disebut sebagai daerah lokalisasi.
Prostitusi memberikan berbagai dampak dalam kehidupan social, baik secara psikologi yang berakibat pada karakter individu atau secara kolektivitas masyarakat.dengan beberapa dampak negative yang ditimbulkan maka semua agama melarang keberadaan prostitusi di muka bumi,hal itu dijelaskan dalam aturan yang dibukukan yaitu kitab suci. Namun secara kenegaraan terkhusus di Indonesia ternyata kebijakan prostitusi belum jelas karena secara moral ternyata prostitusi dilarang namun secara tekstual ternyata ia dianggap sah jika prostitusi tersebut dilakukan di wilayah yang sudah di atur oleh Negara yang disebut sebagai daerah lokalisasi.
B. Refleksi
Dunia Malam Dan Eksistensi Pekerja Seks
Komersial
Profesi
sebagai pekerja seks tidak dipandang sebagai profesi yang terhormat oleh
masyarakat. Memang di kalangan masyarakat luas sendiri terdapat semacam
dualisme dalam menyikapi masalah prostitusi. Di satu pihak, demand atau
permintaan terhadap pekerja seks juga tetap tinggi dan banyak yang bersedia
membayar pekerja seks lebih mahal. Namun, di pihak lain, walaupun saat ini
sebagian kecil masyarakat sudah mulai melihat para pekerja seks sebagai korban
dan berusaha untuk menawarkan program-program pengentasan untuk menolong
mereka, sebagian besar lain dari masyarakat masih terus mengutuk dan
mengucilkan para pekerja seks, menganggap mereka sampah masyarakat. Bahkan
ketika mereka ingin beralih profesi ke bidang lain yang dipandang bermartabat
oleh lingkungannya, masyarakat tidak begitu saja menerima mereka. Hal ini
mengakibatkan para pekerja seks mengalami kesulitan untuk alih profesi ke
bidang lain.
Faktor
ekonomi menjadi salah satu penyebab timbulnya praktek prostitusi, kondisi bangsa
yang berada pada Negara berkembang membuat lapangan pekerjaan semakin sulit
dengan biaya hidup yang semakin tinggi dan menjadi kebutuhan yang mendesak
sehingga banyak dari perempuan yang mencoba menghidupi diri dan keluarganya
dengan cara instant atau gampang. Persoalan ekonomi menjadi factor yang dominan
dalam pembentukan masyarakat, menurut marx, infrastruktur akan mempengaruhi
suprastruktur, infrastruktur yang dimaksud adalah ekonomi dan berbagai alat
pemenuhan kebutuhan akan mempengaruhi pola hidup masyarakat.praktek prostitusi
terjadi dan marak berkembang akhir-akhir ini tidak bisa terlepas dari tendensi
ekonomi sebagai motif hidup masyarakat materialism, dan landasan epistemologi itulah
yang banyak di anut oleh masyarakat hari ini.selain itu faktor Keluarga Broken
home atau keluarga yang mengalami kerusakan/keretakan juga menjadi salah satu
penyebab terjadinya praktek prostitusi tersebut. Keluaga adalah tempat
pendidikan yang utama, tempat pembentuk karakter individu yang lebih dominan
dibanding factor lingkungan.keluarga menjadi pilar utama dalam pembentukan
karakter tersebut. Dalam keluarga, hubungan yang terjadi dilandasi oleh kasih
sayang, kasih sayang adalah hal mendasar dan substantive dalam sruktural tersebut.keluarga
tidak terbentuk secara determinis atau keterpaksaan tapi terbentuk secara
alamiah. Tanpa sebuah kasih sayang di dalamnya maka keluarga akan mengalami
kerapuhan dan akhirnya menimbulkan keretakan.
Secara fitrawi, manusia membutuhkan kasih sayang , jiwanya senantiasa mendorong individu untuk mencari kasih sayang tersebut sebagai kebutuhan mendasar yang harus dipenuhi. Jika dalam keluarga tersebut tidak ada kasih sayang akibat keretakan keluarga maka anggota keluarga tersebut akan mulai mencari kasih sayang di tempat lainnya, kasih sayang itu terkadang diaktualkan dalam belaian-belaia fisik atau hanya secara biololgis belaka. Semua itu hanya bisa diaktualkan di tempat lokalisasi bahkan yang menyenanginya akan menjadikan prostitusi sebagai profesi. kondisi ini banyaak terjadi pada kalangan remaja sehingga di daerah lokalisasi pun kita banyak mendapati perempuan perempuan yang masih remaja dari golongan ekonomi menengah ke atas.lebih jauh lagi faktor Budaya.
Secara fitrawi, manusia membutuhkan kasih sayang , jiwanya senantiasa mendorong individu untuk mencari kasih sayang tersebut sebagai kebutuhan mendasar yang harus dipenuhi. Jika dalam keluarga tersebut tidak ada kasih sayang akibat keretakan keluarga maka anggota keluarga tersebut akan mulai mencari kasih sayang di tempat lainnya, kasih sayang itu terkadang diaktualkan dalam belaian-belaia fisik atau hanya secara biololgis belaka. Semua itu hanya bisa diaktualkan di tempat lokalisasi bahkan yang menyenanginya akan menjadikan prostitusi sebagai profesi. kondisi ini banyaak terjadi pada kalangan remaja sehingga di daerah lokalisasi pun kita banyak mendapati perempuan perempuan yang masih remaja dari golongan ekonomi menengah ke atas.lebih jauh lagi faktor Budaya.
Budaya
adalah perilaku manusia yang sering dilakukan dan telah diwariskan secara terus
menerus, perilaku manusia dipengaruhi oleh cara pandang dia dalam memahami
segala sesuatu( landasan epistemic), cara pandang masyarakat yang menghalalkan
kebebasan individu sebagai sebuah kemerdekaan akhirnya menggiring individu pada
kebebasan hubungan. Kebebasan hubungan tersebut akhirnya secara perlahan
mengarahkan individu kepada wilayah prostitusi.karena prostitusi adalah
pengejawantahan dari kebebasan individu.
selain itu faktor Psikologis menurut Sigmen freud 2010 seorang tokoh psikologi menyebutkan bahwa ada tiga motif yang mempengaruhi perilaku manusia. Dorongan kejiwaan tersebut timbul dari alam bawah sadar manusia yang menggerakkan manusia, dorongan kejiwaan atau motif tersebut adalah anal, oral dan genital. anal adalah kebutuhan yang berhubungan dengan pemuasan libido-libido seksual, kebutuhan untuk mempertontonkan jenis kelamin. Oral adalah kebutuhann yang berhubungan dengan pemuasan mulut, sedangkan genital adalah kebutuhan akan pemuasan pada wilayah kepemilikan dimana setiap individu akan terdorong untuk memiliki segala apa yang diharapkan.ketiga motif tersebut hadir semenjak manusia dari kecil, sebagai contoh anak kecil akan senantiasa bahagia ketika mempertontonkan jenis kelaminnya atau telanjang di depan umum(anal), ia akan memasukkan barang apa saja ke dalam mulutnya(oral), dan ingin memiliki barang apa saja yang dapat lihat bahkan akan menangis jika tidak memperolehnya (genital). seiring dengan perkembangan manusia maka ketiga dorongan ini akan tersimpan dialam bawah sadar dan bagi yang tidak terpuaskan di masa kecilnya maka akan mengaktualkan ketika dewasa. Individu yang tidak puas pada wilayah anal sewaktu kecil maka ia akan mencari dan memuaskan dirinya keika ia sudah dewasa. Kebutuhan yang dipengaruhi oleh kondisi psikologis tersebut akan mudah tersalurkan denga cara prostitusi.
selain itu faktor Psikologis menurut Sigmen freud 2010 seorang tokoh psikologi menyebutkan bahwa ada tiga motif yang mempengaruhi perilaku manusia. Dorongan kejiwaan tersebut timbul dari alam bawah sadar manusia yang menggerakkan manusia, dorongan kejiwaan atau motif tersebut adalah anal, oral dan genital. anal adalah kebutuhan yang berhubungan dengan pemuasan libido-libido seksual, kebutuhan untuk mempertontonkan jenis kelamin. Oral adalah kebutuhann yang berhubungan dengan pemuasan mulut, sedangkan genital adalah kebutuhan akan pemuasan pada wilayah kepemilikan dimana setiap individu akan terdorong untuk memiliki segala apa yang diharapkan.ketiga motif tersebut hadir semenjak manusia dari kecil, sebagai contoh anak kecil akan senantiasa bahagia ketika mempertontonkan jenis kelaminnya atau telanjang di depan umum(anal), ia akan memasukkan barang apa saja ke dalam mulutnya(oral), dan ingin memiliki barang apa saja yang dapat lihat bahkan akan menangis jika tidak memperolehnya (genital). seiring dengan perkembangan manusia maka ketiga dorongan ini akan tersimpan dialam bawah sadar dan bagi yang tidak terpuaskan di masa kecilnya maka akan mengaktualkan ketika dewasa. Individu yang tidak puas pada wilayah anal sewaktu kecil maka ia akan mencari dan memuaskan dirinya keika ia sudah dewasa. Kebutuhan yang dipengaruhi oleh kondisi psikologis tersebut akan mudah tersalurkan denga cara prostitusi.
C. Polemik Keberadaan dan Eksistensi Pekerja Seks
Komersial
Profesi
sebagai pekerja seks tidak dipandang sebagai profesi yang terhormat oleh
masyarakat. Memang di kalangan masyarakat luas sendiri terdapat semacam
dualisme dalam menyikapi masalah prostitusi. Di satu pihak, demand atau
permintaan terhadap pekerja seks juga tetap tinggi dan banyak yang bersedia
membayar pekerja seks lebih mahal. Namun, di pihak lain, walaupun saat ini
sebagian kecil masyarakat sudah mulai melihat para pekerja seks sebagai korban
dan berusaha untuk menawarkan program-program pengentasan untuk menolong
mereka, sebagian besar lain dari masyarakat masih terus mengutuk dan
mengucilkan para pekerja seks, menganggap mereka sampah masyarakat. Bahkan
ketika mereka ingin beralih profesi ke bidang lain yang dipandang bermartabat
oleh lingkungannya, masyarakat tidak begitu saja menerima mereka. Hal ini
mengakibatkan para pekerja seks mengalami kesulitan untuk alih profesi ke
bidang lain.
Kondisi
ini tentunya mengakibatkan terjadinya masalah-masalah diantaranya.
1.Pemetaan
sosial
pemetaan
social dan pendiskreditan kaum pekerja seks sebagai kaum minoritas dalam
masyarakat. Dalam kondisi kehidupan masyarakat sosok pekerja seks komersial
dianggap sebagai manusia yang amat hina, hal ini terjadi karena landasan
epistemology sebagian masyarakat di Indonesia berlandaskan agama sebagai
landasan epistemology mereka dalam menyikapi segala hal. Dalam agama, prostitusi
sangat dilarang dan diharamkan oleh agama sehingga mereka yang terlibat dalam
dunia prostitusi adalah manusia yang bergelimpangan dosa dan sangat hina. Hal
inilah yang membuat para pekerja seks komersial susah diterima di masyarakat
dan kesatuan masyarakat akhirnya terbagi dalam wilayah sectarian. Prostitusi
mengakibatkan terjadinya pemetaan sosial.
2.
Kekerasan dalam masyarakat
Dalam
teori social, pemetaan dalam masyarakat sangat rentan mengakibatkan konflik
karena masyarakat terbagi dalam kelompok-kelompok.kelompok kelompok ini
tentunya dalam perjalannya akan menimbulkan pergesekan karena tiap institusi
senantiasa bergerak menuju titik idealnya dalam pahamannya masing-masing. Titik
ideal yang menjadi tuntutan kelompok masyarakat prostitusian merupakan antitesa
dari titik ideal masyarakat normative(masyarakat anti prostitusi). dalam
pahaman kaum anti prostitusi menganngap bahwa masyarakat akan idealketika
berbagai penyimpangan norma hilang dari wilayahnya. Umumnya yang berada dalam
institusi ini adalah kaum kaum agamawan. Sementara mereka yang berada pada
wilayah prostitusi yakni pekerja seks komersial, pengusaha dunia malam,
konsumen, akan tetap mempertahankannya. Ketika masing masing institusi tetap
bertahan dalam egonya maka konflik yang mengarah pada tindak kekerasan akan
tercipta, bergesernya konflik ideologi menjadi konflik fisik.Tindak kekerasan
dalam masyarakat ini sudah serig terjadi, pada umumya adalah tindakan
penyerangan oleh kaum agamawan terhadap daerah lokalisasi. Gerakan penyerangan
ini sering dilakukan oleh Front Pembela Islam(FPI)
3.
Krisis moral
Prostitusi
memberikan efek psikologis kepada individu para pelaku pelaku yang ada di
dalamnya. Sadar atau tidak perilaku prostitusi berpengaruh terhadap kondisi
kejiwaan individu penganutnya. Dari risiko pekerjaan, hubungan dengan
masyarakat dan minimnya perlindungan yang diberikan, kita tahu bahwa prostitusi
bukanlah lapangan pekerjaan yang mudah dan menyenangkan. Mengenai penghasilan,
benarkah prostitusi menjanjikan kekayaan? Ternyata tidak serta merta demikian.
Dari jumlah yang dibayar oleh pelanggan, tidak semuanya bisa dimiliki oleh
pekerja seks, khususnya pekerja yang tergantung pada pihak perantara. Ia harus
membaginya dengan mucikari, perantara yang mengatur pertemuan antara pekerja
seks dengan pelanggannya, atau germo, si pemilik rumah pelacuran. Bahkan
pekerja seks independen yang tidak tergantung pada jasa perantara juga tidak
bisa menikmati hasil keringatnya 100 persen. Kondisi lingkungan yang keras ini
akan mengakibakan kondisi kejiwaan yang keras pula. Dengan kondisi kejiwaan
yang keras akhirnya setiap individu dalam menjalani kehidupan kesehariannya
akan dipengaruhi oleh kekerasan jiwa tersebut. Dengan dorongan jiwa ini,
perilaku individu akhirnya keluar dari garis normative masyarakat sehingga
terjadi krisis moral, tentunya ini sangat menghawatirkan jika krisis moral ini
akhirnya merebak ke dalam segala lini kehidupan karena krisis moral bisa
bersifat seperti virus yang gampang ditularkan karena setiap hari para pekerja
seksual berinteraksi dengan jumlah masyarakat yang terdiri dari segala lapisan
stara social tak mengecualikan para pejabat tinggi Negara.
4. Penyakit mematikan
AIDS
adalah salah satu penyakit yang ditularkan virus HIV, salah satu penyakit yang
menyerang kekebalan tubuh manusia.virus ini bisa timbul akibat hubungan seksual
yang tidak sehat karena terjadi pergantian pasangan sehingga daerah kemaluan
tidak sehat. Penyakit ini belum bisa disembuhkn, sehingga kematian bagi
penderiata AIDS adalah sahabat yang bisa datang lebih cepat.Selain AIDS ada
pula berbagai penyakit kelamin yang bisa ditimbulkan antara lain syphilis,
membuat mandul,. menyebabkan keguguran, menimbulkan kanker, leher rahim merusak
penglihatan, otak dan hati.
5. Perceraian dan ketidak harmonisan rumah
tangga
Prostitusi
yang merupakan kegiatan menyimpang norma masyarakat adalah sesuatu hal yang
amat memalukan jika masyarakat terjun di dunia itu karena akan didiskreditkan.
Sehingga bagi para aki-laki yang ingin menikmati seks komersial tersebut maka
akan melakukannya secara rahasia. Bagi para pria yang telah berumah tangga
cenderung menjadi konsumen PSK karena ketidak puasan pelampiasan libido-libido
seksualnya pada istrinya sehingga membutuhkan variasi baru seksual. Jika
perilakun para pria tersebut diketahui oleh istrinya maka akan terjadi
disharmonisasi dalam rumah tangga dan berpeluang mengakibatkan perceraian dalam
rumah tangga.
D.Lokalisasi dan Kondomisasi Pekerja Seks Komersial Bukan Solusi
Upaya
yang dilakukan pemerintah untuk melokalisasi bahkan gerakan kondomisasi pada
dasarnya bukanlah solusi karena upaya tersebut pada dasarnya secara tidak
langsung adalah bentuk legitimasi agar pekerja seks komersial dan prostitusi
tetap berkembang.solusi tersebut hanyalah solusi yang bersifat parsial bukan
yang berifat struktural sistemik maka dari itu penulis memberikan solusi yang
bersifat sistemik .menjadikan pendidikan seks sebagai salah satu mata pelajaran
dalam kurikulum yang diajarkan di tempat pendidikan formal sejak dini yaitu
mencakup jenjang sekolah dasar sampai perguruan tinggi.terjadinya prostitusi
itu disebabkan beberapa factor yang telah di jelaskan di atas dan dari beberapa
factor penyebab timbulnya prostitusi itu di akibatkan karna kurangnya pemahaman
masyarakat terhadap dampak seks bebas. memberikan pemahaman pada masyarakat
harus terstruktur dan tersistimatis untuk mengarahkan masyarakat pada titik
ideal yang di kehendaki.terstruktur dan tersistimatisnya hanya bisa dilakukan
jika dimasukkan dalam kurikulum pendidikan yang diterapkan di sekolah formal mulai
dari jenjang SD sampai perguruan tinggi sehingga pedidikan itu akan menentukan
cara pandang masyarakat yang akan menghindari praktek prostitusi.
· Memberikan pendidikan seks kepada masyarakat dengan memesukkanya pada kurikulum akan memebutuhkan proses yang lama sehingga tidak mampu menghilangkan praktek prostitusi yang ada.pendidikan seks sejak dini akan mengarahkan masyarakat untuk menghindari memasuki wilayah prostitusi.ketika prostitusi semakin berkembang sementara pedidikan seks itu belum di pahami oleh masyarakat karna membutuhkan proses yang lama dalam arti lain tujuan pendidkan itu belum sampai maka akan mengakibatkan lingkungan prostitusi yang lebih dominan karena perkembangannya mempengaruhi pemahaman masyarakat yang masih labil akibat pemahan yang belum tuntas.sehingga kebijakan ini aka memungkinkan terjadinya dua hal yaitu menjadikan prstitusi di hindari.semua masih dalam ta
· Memberikan pendidikan seks kepada masyarakat dengan memesukkanya pada kurikulum akan memebutuhkan proses yang lama sehingga tidak mampu menghilangkan praktek prostitusi yang ada.pendidikan seks sejak dini akan mengarahkan masyarakat untuk menghindari memasuki wilayah prostitusi.ketika prostitusi semakin berkembang sementara pedidikan seks itu belum di pahami oleh masyarakat karna membutuhkan proses yang lama dalam arti lain tujuan pendidkan itu belum sampai maka akan mengakibatkan lingkungan prostitusi yang lebih dominan karena perkembangannya mempengaruhi pemahaman masyarakat yang masih labil akibat pemahan yang belum tuntas.sehingga kebijakan ini aka memungkinkan terjadinya dua hal yaitu menjadikan prstitusi di hindari.semua masih dalam ta
kebijakan,kebijakan
yang tepat sasaran dan mampu menghilangkan prostitusi secara substansi adalak
kebijakn yaitu menutup tempat hiburan
malam atau tempat prostitusi secara ekstrem karena prostitusi hanya bisa
dihilangkan jika pemerintah berani mengambil keputusan dan resiko dari
penutupan tempat prostitusi. Secara ekonomi, penutupan tempat prostitusi hanya
mengurangi sedikit pendapatan pemerintah dari pajak retribusi. Roda
perekonomian akan tetap stabil karena tempat hiburan malam bukanlah penyumbang
devisa terbesar. Generasi bangsa akan bisa diselamatkan dari krisis moral hanya
dengan menolak sebagian kecil pajak retribusi dari THM. Namun tentunya nasib
para pekerja seksual harus diperhatikan dengan menyiapkan lapangan pekerjaan
yang bisa menghidupi dirinya.
Penutup
Penyakit
HIV/AIDS hingga saat ini masih merupakan penyakit yang paling ditakuti oleh
masyarakat baik di dunia maupun Indonesia. Bagai penderita kusta di abad para
nabi, Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) hidup dalam selubung stigma.Segundang ide
disuarakan dan komitmen meruap di seminar dan berbagai
pertemuan. Tetapi yang menjadi pertanyaan mengapa masih
banyak saja masyarakat yang tertular oleh penyakit tersebut yang berujung
kepada kematian.
Sementara itu,
penularan penyakit HIV/AIDS di Indonesia terus meluas sejak kasus pertama
positif HIV didapati pada tahun 1987, dan hingga Juni 2008 angka kematian
akibat penyakit penurunan kekebalan tubuh itu sudah mencapai 2.479 orang.Data
yang Departemen Kesehatan (Depkes) per Juni 2008 menunjukkan tren kenaikan
kasus positif HIV/AIDS di angka 18.963 orang dengan prevalensi kasus AIDS per
100.000 orang penduduk di Indonesia.Artinya bagai gunung es, kasus yang belum
tercatat bisa lebih tinggi dari angka yang ditunjukkan saat ini.dengan angka
yang sangat besar tersebut maka sudah seharusnya prostitusi di hapus.
DAFTAR
PUSTAKA
Freud,Sigmen
2005,sosiologi budaya manusia.Bandung
Rineka Bandung
Nafsiah,Ida
2005 prostitusi dan Dunia Malam kota
Metropolitan.Bandung.Aneka ilmu
Hawari,Muhamad,Ekspoloitasi Kaum Wanita ,detik,com diakses
23 april
Tidak ada komentar:
Posting Komentar